Keikhlasan Berkurban

*Dana Kurnia

Jumat, 11 September 2015 | Opini
Keikhlasan Berkurban
Dana Kurnia - Surveyor & Pendamping Program DDS

Meningkatnya kesadaran religius umat Islam, ditandai dengan menggelembungnya kuantitas hewan kurban, tentu merupakan fenomena yang menggembirakan.

Namun apakah diiringi dengan peningkatan kualitas moral manusianya ? Pasalnya, kurban itu sendiri sering kali hanya dipahami sebatas ibadah ritual keagamaan yang rutin. Artinya, setiap umat Islam yang melaksanakan ibadah kurban hanya mengharap pahala atau surga. Atau bahkan, mereka risih jika status kaya yang dimilikinya belum lengkap jika ada gunjingan bila dia tak berkurban.

Setiap yang melakukan ibadah kurban yang terbayang selalu besarnya pahala dan nikmatnya masuk surga akibat imbalan dari perbuatan kurban yang pernah dilakukan. Adapun nilai atau makna ritual dari ibadah kurban apalagi makna sosialnya seringkali terlupakan.

Jika kita membaca kisah Nabi Ibrahim A.S. dan Ismail A.S. yang merupakan akar sejarah diturunkan ibadah kurban ini, maka kita akan menemukan makna spritualitas yang sangat tinggi. Secara spiritual, apa yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim A.S. dan Ismail A.S. itu, menunjukkan kepasrahan atau kepatuhan yang total dari hamba kepada Allah dalam menunaikan ibadah.

Ternyata kepasrahan atau kepatuhan tersebut bukan untuk Tuhan, melainkan untuk manusia itu sendiri. Setiap ibadah memang menuntut adanya totalitas kepasrahan dan kepatuhan. Inilah yang disebut beribadah dengan ikhlas, tanpa pamrih kecuali karena Allah semata.

Orang yang tidak memiliki semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain meskipun mereka setiap tahun melaksanakan penyembelihan hewan kurban, belum dapat dikatakan telah melaksanakan ibadah kurban. Sebaliknya, meskipun seseorang itu tidak pernah menyembelih hewan kurban tetapi memiliki semangat dan selalu memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan berarti mereka telah melaksanakan ibadah kurban.

Ikhlas bukanlah saat kita mengatakan, "Aku sudah ikhlas". Pada dasarnya keikhlasan bukan sesuatu yang diucapkan oleh mulut, melainkan dari hati. Saat kita ikhlas, itu berarti kita tidak akan mengungkitnya lagi kebelakang.

Saat kita ikhlas, itu berarti saat ada yang membicarakannya, kita sudah mampu meresponnya dengan tersenyum. Senyum keyakinan, bahwa Sang Pencipta akan segera mengganti kesedihan kita dengan kebahagiaan yang berkali lipat. Saat kita ikhlas, maka tidak akan ada rasa sakit yang dapat menyentuh kita. Karena kita sudah ikhlas. Karena kita berbaik sangka pada Allah. Karena kita percaya Allah akan menggantinya. Karena kita percaya Allah memiliki rencana yang lebih baik. Ketika kita telah benar-benar ikhlas.

Maka tetaplah berbaik sangka, karena sesungguhnya rencana dan ketetapan-Nya maha indah, bahkan lebih dari apa yang kita harapkan. Semakin cepat ikhlas, semakin cepat diganti dengan yang lebih baik. (*)

*Surveyor & Pendamping Program DDS

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar