Korupsi dan Kemiskinan

*Musfi Yendra

Jumat, 04 November 2016 | Opini
Korupsi dan Kemiskinan
Musfi Yendra - Pembina Dompet Dhuafa Singgalang

"Korupsi adalah musuh pertama kemiskinan. Ananda teruslah berjuang di jalan yang lurus." Demikian pesan pendek dari Parni Hadi (PH) kepada saya dua hari lalu.

PH adalah pendiri Dompet Dhuafa, dimana saya mengabdikan diri hingga saat ini. Saya memanggilnya Ayahanda. Setiap momen penting dalam tugas saya atas nama Dompet Dhuafa, saya selalu meminta arahannya.

Seperti pada minggu ini saya diundang kampus Unand bicara tentang korupsi dan kemiskinan. Saya, aktivis anti korupsi dan seorang profesor ilmu hukum diminta jadi narasumber.

Korupsi menjadi momok mengkhawatirkan bangsa Indonesia sejak zaman orde baru hingga sekarang. Zaman orde baru praktik korupsi berada dipusaran pemerintah pusat saja. Era reformasi yang dianggap menjadi momentum perubahan, korupsi menjadi-jadi.

Merata dari pemerintah pusat hingga daerah. Bahkan di tingkat pemerintahan terendah sekalipun; desa, kelurahan atau nagari.

Angka penduduk miskin kita juga cukup tinggi. Per Maret 2016 terhitung 28,01 juta orang miskin di bangsa yang kaya raya ini.

Kemiskinan tersebar di kota dan pedesaan. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi kemiskinan. Siklusnya adalah kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya, agama dan moral.

Bagaimana hubungan antara korupsi dan kemiskinan? Studi literatur oleh Eric Chetwynd, Frances Chetwynd dan Bertram Spector, 2003, dengan judul Corruption and Poverty: A Review of Recent Literature.

Korupsi tidak bisa langsung menghasilkan kemiskinan. Namun, korupsi memiliki konsekuensi langsung terhadap faktor-faktor tata kelola pemerintahan dan perekonomian, yang pada akhirnya melahirkan kemiskinan.

Praktik korupsi dalam perekonomian sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Mengakibatkan berkurangnya investasi dari dalam dan luar negeri, berbagai pungutan yang melemahkan usaha, menurunkan kualitas infrastruktur, distorsi harga pasar dan mengurangi pendapatan pajak. Kondisi ini menjadi pelumas kemiskinan.

Lemahnya tatakelola pemerintahan menjadi sarang praktik korupsi. Bobroknya mental birokrat makin memperparah keadaan. Kerugian negara akibat korupsi paling besar di jalur birokrasi. Angkanya mencapai Rp26,9 triliun.

Halaman:

*Pembina Dompet Dhuafa Singgalang

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar