Pendidikan Seks untuk Anak, Pentingkah?

*Mushallina Lathifa

Kamis, 03 Desember 2015 | Opini
Pendidikan Seks untuk Anak, Pentingkah?
Mushallina Lathifa - Pendamping Program Kesehatan Dompet Dhuafa Singgalang

Hari AIDS Sedunia tiap tanggal 1 Desember lalu, mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa kasus AIDS kini sudah mendunia, di Kota Padang saja berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2014, ternyata kasus HIV mencapai 225 dan AIDS 95 kasus. Meningkat dari tahun 2013 yaitu 164 kasus HIV dan 61 kasus AIDS.

Berdasarkan fenomena tersebut sepatutnya semakin besar perhatian kita, anak-anak menjadi korban bisnis pornografi. Kini mereka hidup di era digital, banyak isi media elektronik dan cetak yang bisa diakses, namun sebenarnya mengandung unsur pornografi.

Dari fanpage Yayasan Kita dan Buah Hati, menurut Victor B Cline, seorang psikolog ternama Amerika, telah melakukan penelitian selama belasan tahun untuk menemukan tahapan terjadinya kecanduan pornografi. Bermula dari melihat pornografi yang levelnya sangat halus seperti iklan sabun. Inilah saklar pertama untuk menyalakan tombol "ON" di kepala seseorang.

Selanjutnya, pornografi dengan level yang meningkat akan menjadi sesuatu yang 'biasa' bagi seseorang. Berkurangnya kepekaan dan peningkatan level porno yg kita lihat bisa jadi penanda bahwa kita tidak lagi sensitif terhadap konten pornografi di level tertentu dan kemudian terus beranjak naik level hingga akhirnya mengalami kecanduan.

Peningkatan ini bisa diukur dari :

1. Frekuensi Melihat: misalnya dari sebulan 1 kali, menjadi 1 minggu 1 kali, meningkat menjadi setiap hari dan seterusnya.

2. Lamanya Waktu Melihat: misalnya dari 5 detik, kemudian meningkat menjadi menit, jam dan seterusnya.

3. Alasan Melihat: misalnya ketika pertama kali tidak sengaja melihat, kemudian meningkat menjadi disengaja.

4. Reaksi Perasaan Ketika Melihat: pertama kali merasa kaget, kemudian menjadi penasaran dan sembunyi-sembunyi melihat, lalu meningkat menjadi sengaja melihat secara terbuka.

5. Isi Tayangan: di awal melihat gambar-gambar mengenai wanita atau pria berbusana minim, kemudian meningkat ke gambar yang lebih terang-terangan, lebih berani, bahkan lebih kasar, sadis dan jahat serta lebih baru.

Ketika mengikuti diskusi publik mengenai Pendidikan dan Informasi Hak Kesehatan Seksual & Reproduksi pada beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang bapak yang merupakan wakil dari Adat Nagari.

Halaman:

*Pendamping Program Kesehatan Dompet Dhuafa Singgalang

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar