Jangan Biarkan Kota Tercinta jadi Kota Genangan

*Andi ST MT

Jumat, 03 Desember 2010 | Opini
Jangan Biarkan Kota Tercinta jadi Kota Genangan

"Seharusnya, aku tak jatuh cinta saat hujan, karena setiap hujan menyapa, sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan."

Mengutipan kalimat melankolis diatas, membuktikan bahwa suasana hujan mampu membawa seseorang pada kenangan-kenangan yang sudah dilaluinya.

Hujan adalah proses pengembalian air yang telah diuapkan ke atmosfer menuju kepermukaan bumi dan merupakan bagian dari peristiwa terbentuknya air di bumi. Hujan sebagai salah satu fenomena alam dapat menjadi anugerah dan berkah bagi makhluk hidup, namun tidak menutup kemungkinan anugerah terindah yang diturunkan Tuhan Yang Maha Kuasa ini, bisa berubah menjadi sebuah musibah dari berbagai dampak yang ditimbulkannya.

Berbicara musibah, tentunya setiap individu memiliki kebutuhan akan rasa aman dari berbagai peristiwa dan musibah yang terjadi. Kebutuhan rasa aman ini meliputi kebutuhan keamanan dan perlindungan dari berbagai bahaya fisik dan emosi.

Hujan deras dan terus menerus akan menimbulkan dampak kecemasan dan ketidak stabilan emosi, apabila melihat kondisi lingkungan disekeliling mulai mengkhawatirkan dan terasa tidak nyaman. Hal ini tentunya akan berpengaruh juga terhadap aktifitas, rutinitas dan produktivitas masing-masing individu.

Kecemasan tersebut tentunya sangat beralasan, apabila setiap harinya berita dari berbagai media cetak maupun media online memberitakan tentang kondisi kota tercinta ini; "beberapa titik tergenang air...", "air mulai masuk ke pemukiman warga...", "air mulai menggenangi jalan raya yang mengakibatkan sejumlah kendaraan mogok...".

Kemudian, berita yang menyebutkan, "dibeberapa kawasan saluran drainase tidak berfungsi menyebabkan genangan air setinggi lutut...", "hujan deras sejak kemarin mengakibatkan longsor dan menimbun rumah warga...", " kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga..." dan banyak lagi.

Kalimat demi kalimat tersebut, akan menjadi tidak asing untuk dikosumsi setiap musim hujan tiba.

Berdasarkan buku "Prakiraan Musim Hujan 2022/23 di Indonesia" yang dirilis melalui situs resmi BMKG, diperkirakan bahwa puncak musim penghujan terjadi di bulan Desember 2022 dan Januari 2023.

Sedangkan Zona Musim (ZOM) di Pulau Sumatera, awal musim hujan terjadi pada bulan Agustus 2022, untuk puncak musim hujan pada bulan November 2022, sedangkan akhir musim hujan pada bulan Mei 2023.

Kota Padang termasuk dalam zona musim wilayah Sumatera maka masyarakat pada bulan tersebut harus lebih ekstra hati-hati dan siap menghadapi kemungkinan terburuk yang ditimbulkan dari kondisi musiman ini.

Halaman:

*Pemerhati Kota

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar