Refleksi 13 Tahun Tsunami Aceh untuk Kesiapsiagaan Masyarakat Sumatera Barat

*Rahmat Triyono, ST. Dipl. Seis, MSc

Rabu, 27 Desember 2017 | Opini
Refleksi 13 Tahun Tsunami Aceh untuk Kesiapsiagaan Masyarakat Sumatera Barat
Rahmat Triyono, ST. Dipl. Seis, MSc - Kepala Stasiun Geofisika Silaing Bawah Padangpanjang

Gempabumi Aceh yang terjadi 13 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004 pada 07:58:53 WIB dengan episentrum di lepas pesisir barat Sumatera yang berada di antara pulau Simeuleu dan daratan Sumatera dengan kekuatan 9,1-9,3 SR.

Kekuatan gempabumi ini setara dengan 1.500 kali bom atom Hiroshima, gempabumi ini merupakan gempabumi terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan mempunyai durasi terlama sepanjang sejarah, sekitar 8 sampai 10 menit.

Gempabumi aceh tersebut juga menimbulkan bencana tsunami dengan ketinggian mencapai hingga 30 meter dan menyebabkan sekitar 250.000 korban jiwa tewas akibat bencana tsunami ini. Bencana ini merupakan salah satu bencana yang paling mematikan sepanjang sejarah, Indonesia merupakan negara yang berdampak paling besar yaitu sekitar 200 ribu korban jiwa, diikuti Srilanka sekitar 31 ribu jiwa, India sekitar 10 ribu jiwa dan berdampak ke beberapa negara lain seperti Thailand, Myanmar, Maldives, Malaysia, Somalia, Tanzania, Bangladesh, dan Kenya.

Selain menimbulkan banyak korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan banyak menenggelamkan pemukiman di tepi pantai, banyaknya bangunan rusak berat, korban luka-luka, dan banyak korban yang hilang.

Banyaknya korban dan kerusakan yang terjadi akibat gempabumi dan tsunami Aceh tersebut dikarenakan Indonesia pada saat itu belum mempunyai sistem peringatan dini tsunami dan kurangnya kesadaran serta pengetahuan masyarakat terkait bahaya gempabumi dan tsunami serta cara pengurangan resiko terkait bahaya tersebut.

Wilayah Sumatera Barat juga merupakan wilayah yang rawan terhadap kejadian gempabumi dan tsunami, dimana wilayah Sumatera Barat juga pernah terjadi gempabumi besar pada 25 November 1833 di lepas pantai Sumatera sekitar pukul 22.00 WIB dengan perkiraan kekuatan 8,8 sampai 9,2 SR, gempa ini disebabkan oleh pecahnya segmen palung Sumatera sepanjang 1000 km.

Gempabumi ini memicu terjadinya tsunami yang menerjang pesisir Barat Sumatera dengan wilayah terdekat dari pusat gembubumi adalah Pariaman hingga Bengkulu. Tsunami ini juga menyebabkan kerusakan parah di Maldives, Sri Lanka, dan Sychelles, tsunami ini juga dilaporkan mencapai Australia bagian Utara, Teluk Benggala, dan Thailand, meskipun intensitasnya kecil.

Namun, bencana ini tidak terdokumentasi dengan baik sehingga tidak diketahui dengan pasti dampak dan korbannya, beberapa berita menjelaskan bahwa korban jiwa yang disebabkan oleh tsunami ini "banyak".

Kemudian gempabumi yang masih hangat pada ingatan masyarakat Sumatera Barat, yaitu gempabumi Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 pukul 21:42:20 yang terjadi di sebelah Barat daya kepulauan Pagai Selatan. Gempabumi dengan kekuatan 7,7 SR ini mengakibatkan tsunami dengan ketinggian mencapai 3-10 meter. Setidaknya 24 desa hancur, dengan korban mencapai 500 orang.

Gelombang tsunami telah mencapai pantai hanya dalam 5-10 menit setelah terjadinya gempabumi. Gempabumi yang menimbulkan tsunami baru-baru ini adalah gempabumi yang terletak pada 636 km Barat Daya Kepulauan Mentawai pada 2 Maret 2016 pukul 19:49:47 dengan kekuatan 7,8 SR, diikuti tsunami meskipun tidak signifikan di Pulau Cocos 10 cm pada pukul 21.15 dan di Padang setinggi 5 cm pada pukul 21.40

Apakah gempabumi dapat diprediksi? Hal tersebut masih menjadi kontroversi sampai saat ini oleh para ilmuwan. Pada tahun 1975, para ilmuwan dan peneliti memprediksi kejadian gempabumi yang terjadi di Provinsi Liaoning dimana populasinya mencapai 1 juta jiwa dan pejabat China memerintahkan untuk melakukan evakuasi pada provinsi tersebut.

Halaman:

*Kepala Stasiun Geofisika Silaing Bawah Padangpanjang

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar