Dekonstruksi dan Rekonstruksi

*Taufiqqurrahman

Kamis, 26 Januari 2017 | Opini
Dekonstruksi dan Rekonstruksi
Taufiqqurrahman - Penggiat Literasi Rumah Bata

Melanjutkan status yang kemaren, saya teringat ketika kuliah filsafat Islam beberapa tahun yang lalu di IAIN Sunan Kalijaga, membahas pemikiran Mohammed Arkoun tentang Rethingking of Islam.

Betapa sulitnya saya mencerna dan mengambil benang merah ketika membaca buku Arkoun ini, tapi Dr. Amin Abdullah menjelaskannya dengan sangat mudah kepada kami, hanya dengan menarik panah segitiga di papan tulis, inti pemikiran Arkoun menjadi terang benderang di kepala saya.

Apa yang dimaksud Arkoun tentang tafsir bolak balik, yakni dengan memahami isi teks, memahami latar belakang (konteks) ketika teks ini dilahirkan, kemudian membawakannya dalam pemahaman (konteks) kekinian.

Itulah dekonstruksi. Dekonstruksi terhadap teks. Begitulah penafsiran Al-Qur'an ala Arkoun yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Derrida. Al Qur'an harus ditafsir ulang, tafsir-tafsir lama yang sudah berkarat harus dibongkar, pemahaman tunggal tidak relevan lagi. Teks Al Quran membutuhkan tafsir baru yang sesuai dengan dinamika zaman.

Rasanya waktu itu hebat sekali ide-ide seperti ini, apalagi bagi saya yang baru kuliah tafsir semester tiga. Membayangkan kita yang baru kuliah ini akan "membully" kitab-kitab tafsir yang telah ditulis oleh para ulama-ulama terkemuka di masa lalu, tafsir Al Maraghi, tafsir Ibnu Katsir, tafsir Jalalain dan lain-lain yang selama ini menjadi rujukan bagi ummat Islam.

Ide Dekonstruksi ini terdengar sangat hebat dan revolusioner, digandrungi mahasiswa yang haus ilmu seperti saya. Karena itu dengan serius saya mencerna Arkoun, menggugat teks, menafsirkan realita, dan kemudian bingung. Karena setelah itu apa? Sekadar memenuhi hasrat intelektual ternyata tidak menyelesaikan masalah. Pada akhirnya saya berkesimpulan, hal-hal yang revolusioner kadang tidak jelas ujungnya.

Begitu juga dalam kehidupan ini, Dekonstruksi adalah sebuah ide yang ambisius. Pemahaman sederhananya, untuk membangun (merekonstruksi) sesuatu yang baru, kita perlu melakukan penghancuran (dekonstruksi) terhadap yang lama. Karena selagi yang lama masih bercokol, dia akan berpotensi menjadi penghalang terhadap rekonstruksi yang baru itu.

Karena itu, para pemikir yang ambisius terhadap perubahan selalu melakukan dekonstruksi sebelum merekonstruksi. Outputnya apa yang kita sebut dengan blueprint (cetak biru). Sesuatu yang sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya.

Contoh yang lazim kita lihat adalah cetak biru di dunia pendidikan. Lain mentri lain kebijakan, karena setiap mentri yang baru melakukan pembongkaran terhadap sistem yang lama. Begitu juga cetak biru di bidang ekonomi, berada dalam tarik menarik antara ekonomi kapitalis dan ekonomi kerakyatan, antara ekonomi modal dan ekonomi pemberdayaan.

Dalam teori dekonstruksi, semua adalah soal rekayasa, soal bagaimana menafsir ulang atau membuat tafsir baru terhadap sesuatu.

Sekarang proses dekonstruksi dan rekonstruksi ini sepertinya sedang dipraktekkan terhadap Negara ini. Negara sedang menjalani proses cetak biru. Negara sedang melakukan dekonstruksi dengan membuat tafsir ulang terhadap simbol-simbol, menggugat otoritas lama dan memberi makna baru terhadap sejarah dan identitas.

Halaman:

*Penggiat Literasi Rumah Bata

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar