Bina Mental Generasi dengan Seni

*Muhammad Fadhli

Kamis, 02 Januari 2020 | Opini
Bina Mental Generasi dengan Seni
Muhammad Fadhli - Penggiat Forum Batajau Seni

Kalau seni budaya Piaman kita biarkan mati, habislah kita! Sungguh, tak ada harta terbesar yang patut kita wariskan pada anak kemenakan agar mereka tetap menjadi ughang Piaman, kecuali kekayaan budaya Piaman itu sendiri.

Harta bisa habis, tanah bisa dibeli orang, tapi sikap berbudaya tak akan bisa ditawar dengan harga berapapun. Itulah kekayaan terbesar kita!

Kalau hanya benda yang kita wariskan, benda bisa menyesatkan! Tapi, adat, budaya dan kesenian tradisi, di dalamnya senantiasa menyebarkan bibit positif, agar generasi tidak tersesat.

Jadi, seni bukan pelengkap ketika dibutuhkan untuk seremoni ini dan itu.

Buat apa seni ditampilkan hebat-hebat di dalam sebuah seremoni, toh ia hanya jadi pelengkap. Buat apa seni dibikin bagus-bagus, jika hanya untuk menyenangkan hati "ughang lalu" yang entah kenal, entah tidak dengan budaya kita.

Buat mereka itu hanya hiburan. Sementara, buat masyarakat itu pelajaran. Kita tak perlu bangga berjuta orang luar mengagumi seni kita, jika orang kita sendiri malah tak mencintainya. Dampak ikutan dari pelestarian tradisi, itu cuma bonus!

Seni harusnya dikembalikan pada masyarakat. Pewarisnya! Dipertontonkan pada mereka, agar mereka merasa memilikinya.

Pesan kesenian harus sampai pada tiap orang. Bukan sekadar hiburan. Bukan hanya itu guna kesenian.

Seni adalah platform pembinaan mental generasi kita. Itu intinya. (*)

*Penggiat Forum Batajau Seni

Bagikan:
Muhammad Fadli.
Ketua Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas

Fenomena Politik Keluarga dan Tantangan Demokrasi Kita

Opini - 08 Maret 2024

Oleh: Dr Hary Efendi Iskandar

Dr. Hary Efendi Iskandar

Benarkah Gerakan Kampus Partisan

Opini - 27 Februari 2024

Oleh: Dr. Hary Efendi Iskandar

Nadia Maharani.

Kejahatan Berbahasa di Dirty Vote

Opini - 13 Februari 2024

Oleh: Nadia Maharani

Zulfadhli Muchtar

Adaptasi Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Bagi UMKM

Opini - 31 Januari 2024

Oleh: Zulfadhli Muchtar